Sejarah minuman matcha dimulai di Tiongkok pada abad ke-8, dibawa ke Jepang oleh biksu Eisai pada abad ke-12, dan berkembang menjadi bagian integral dari upacara minum teh Jepang (chanoyu) serta filosofi Zen. Melalui teknik budidaya peneduhan dan penggilingan halus, kualitas matcha disempurnakan di Jepang, menjadikannya simbol spiritualitas, estetika, dan sekarang, tren global.
Asal Mula di Tiongkok dan Kedatangan di Jepang
Akar Tiongkok:
Teh bubuk hijau, yang kelak dikenal sebagai matcha, berasal dari Tiongkok pada masa Dinasti Tang (abad ke-7 hingga ke-10).
Biksu Eisai:
Pada abad ke-12, biksu Buddha Jepang bernama Eisai membawa benih dan pengetahuan tentang matcha dari Tiongkok ke Jepang.
Buku "Kissa Yojoki":
Eisai juga menulis buku pertama tentang teh di Jepang, "Kissa Yojoki" (Kitab Teh), yang memuji manfaat kesehatan dan mental teh.
Pengembangan di Jepang
Kultivasi dan Kualitas:
Para petani Jepang menyempurnakan teknik budidaya teh, termasuk menanam tanaman di bawah naungan (pemeduhan) untuk meningkatkan jumlah klorofil dan asam amino, yang menghasilkan warna hijau cerah, rasa lebih manis, dan umami.
Chanoyu (Upacara Minum Teh):
Matcha menjadi inti dari chanoyu, upacara minum teh Jepang yang menekankan kesederhanaan, kesadaran, dan spiritualitas, sangat dipengaruhi oleh Buddhisme Zen.
Simbol Status:
Matcha awalnya menjadi simbol kemewahan dan status sosial di kalangan bangsawan dan samurai Jepang.
No comments:
Post a Comment